infogeh.com, PESAWARAN — Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang menjadi penopang ekonomi masyarakat di Kabupaten Pesawaran, khususnya kawasan Sukma Ilang. Namun, di tengah pesatnya pertumbuhan industri kopi nasional, para petani setempat masih dihadapkan pada tantangan belum optimalnya produktivitas serta fluktuasi mutu biji kopi yang dihasilkan. Ketiadaan pemetaan potensi varietas dan ketidaktepatan pemilihan lokasi tanam berdasarkan elevasi lahan menjadi urgensi utama perlunya dilakukan riset berbasis ilmiah.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela) yang diketuai oleh Putri Mariska Fahmi, M.P. beserta tim (Ir. Anggia Fanesa, S.P., M.Tr.P., Dian Latifathul Mar’ah, S.P., M.P., Retno Wulansari, M.Agr., Reza Wahyuni, M.Pd.) berhasil melakukan identifikasi langsung terhadap berbagai klon dan varietas kopi yang ada di Sukmailang, Kabupaten Pesawaran. Identifikasi ini dilakukan secara komprehensif melalui pengukuran karakter morfologi tanaman dan analisis fisiko-kimia biji kopi guna melihat sejauh mana interaksi antara faktor genotipik dan kondisi lingkungan tumbuh setempat.
Penelitian yang berfokus pada perbandingan klon kopi Robusta dan varietas Arabika di dua zonasi ketinggian Sukma Ilang—yaitu elevasi menengah (600–800 mdpl) dan dataran tinggi (>1000 mdpl)—mencatatkan sejumlah temuan krusial. Karakteristik pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah cabang primer, hingga dimensi daun terbukti sangat dipengaruhi oleh latar belakang genetik masing-masing varietas yang teridentifikasi di lapangan.
Hasil identifikasi morfologi menunjukkan bahwa varietas Sigara Runtang mencatatkan pertumbuhan vertikal paling unggul dengan rata-rata tinggi mencapai 242 cm dan pembentukan cabang primer terbanyak. Sementara itu, varietas Lengkong dan Bangkalan menunjukkan keunggulan pada kerapatan pembentukan cabang sekunder yang sangat produktif sebagai tempat tumbuhnya buah kopi.
Tidak hanya dari segi arsitektur morfologi tanaman, hasil analisis fisiko-kimia biji kopi beras (green beans) juga menunjukkan performa yang sangat menjanjikan. Varietas Lengkong dan Sigara Runtang menghasilkan densitas biji tertinggi, masing-masing mencapai 0,800 g/cm3 dan 0,763 g/cm3. Densitas yang tinggi ini menandakan kerapatan jaringan sel biji yang padat, sebuah indikator penting dalam menghasilkan profil aroma dan cita rasa yang kompleks saat disangrai. Selain itu, tingkat cacat biji (defect) pada varietas unggul ini tercatat sangat rendah serta memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Ketua Tim Peneliti menyampaikan bahwa keberhasilan mengidentifikasi klon dan varietas di Sukma Ilang ini memiliki urgensi strategis sebagai landasan pengembangan sektor perkebunan kopi berbasis indikasi geografis di Kabupaten Pesawaran.
“Melalui identifikasi morfologi dan analisis fisiko-kimia ini, kita dapat memberikan rekomendasi yang presisi bagi para petani di Sukma Ilang mengenai klon atau varietas mana yang paling cocok dikembangkan pada ketinggian tertentu, serta bagaimana mengoptimalkan pengolahannya agar menghasilkan mutu kopi kelas dunia,” ujarnya.
















