Infogeh.com- Tidak diragukan lagi, bila ditanya siapa pemimpin yang paling mengetahui detail kondisi wilayah dan ekonomi masyarakat yang dipimpinnya tak lain tak bukan ialah Kepala Desa.
Dari mulai jumlah jalan berlubang, siring rusak hingga bangunan rumah warga yang kondisinya butuh renovasi, semua datanya ada di dalam kepala seorang pemimpin desa, dusun, kampung atau sebutan lainnya. Belum lagi data terkait ibu hamil, jumlah balita dan lansia sampai angka pengangguran di desa tersebut, selalu menjadi isu-isu strategis yang dibahas serta beberapa harus dicarikan solusinya.
Namun tentu saja, selain masalah dan tantangan di atas, desa tetap menjadi rumah sekaligus tempat ternyaman bagi banyak orang. Disanalah segudang kenangan, potensi bahkan kearifan tercipta. Apapun yang hari ini kita lihat, kita dapatkan serta nikmati, hampir semuanya berasal dari sana.
Mengutip data BPS, saat ini di Indonesia terdapat 83.971 desa dan kelurahan, tersebar di 514 Kabupaten Kota dari Aceh hingga Papua. Jumlah desa sendiri mencapai lebih dari 74 ribu unit, yang tersebar di 416 Kabupaten dengan kondisi geografis yang beragam, mulai dari daratan, pulau hingga pegunungan. Melihat data tersebut, tak berlebihan rasanya bila kita simpulkan bahwa di Indonesia terdapat lebih dari 74 ribu daerah otonom yang memiliki pemimpin yang memiliki legitimasi kuat, dengan gelar Kepala Desa atau sebutan lainnya.
Dalam konteks otonomi daerah, ujung tombak kebijakan tersebut adalah para kepala desa bersama perangkat dan masyarakatnya. Sebab selain menjabat sebagai kepala pemerintahan, mereka juga dipercaya mengelola anggaran yang cukup besar, bersumber dari APBN dan APBD.
Khusus di provinsi Lampung.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total pagu Dana Desa untuk Provinsi Lampung tahun 2025 adalah Rp2,27 triliun, dengan realisasi penyaluran hingga 30 September 2025 mencapai Rp1,95 triliun atau 85,88 persen.
Penerima terbesar adalah Kabupaten Lampung Tengah dengan realisasi Rp310,02 miliar, diikuti Lampung Timur (Rp264,65 miliar) dan Lampung Utara (Rp198,38 miliar). Dengan dana tersebut, desa-desa di Lampung telah menghasilkan berbagai pembangunan nyata, seperti penyediaan air bersih sepanjang 38.661 meter, pembangunan 25 jembatan, 93 unit ambulans desa, serta pembangunan jalan sepanjang 208.999 meter. Selain itu, juga dilakukan penyaluran BLT Desa kepada 244.757 keluarga penerima manfaat dengan total Rp73,43 miliar dan penyertaan modal desa sebesar Rp134,23 miliar.
Tantangan serta peluang sinergi Program Pusat dan Provinsi !
Saat ini, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi salah satu program prioritas pusat dan provinsi untuk memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Di Lampung, sendiri telah terbentuk sebanyak 2.650 KDMP, namun baru sekitar 58 koperasi yang beroperasi secara reguler, dengan bisnis yang didominasi oleh warung sembako, serta beberapa yang menjalankan sub-pangkalan LPG dan distribusi pupuk.
Pemerintah provinsi Lampung melalui Dinas Koperasi dan UKM terus mendorong optimalisasi KDMP, antara lain dengan mendorong pengurus koperasi untuk masuk ke sistem digital (capaian mencapai 90 persen) sebagai syarat mengakses pinjaman dari bank Himbara dengan plafon maksimal tiga miliar per koperasi.
Selain itu, Provinsi Lampung juga mendukung pelatihan bagi pengurus koperasi untuk meningkatkan kapasitas manajemen usaha dan penyusunan proposal bisnis. Contoh konkret telah terwujud di Lampung Timur, yang telah meluncurkan KDMP dengan fokus pada sektor pertanian, peternakan, dan pengembangan UMKM lokal, dilengkapi sistem digital untuk transparansi pengelolaan.
Beberapa Tantangan yang dihadapi kebanyakan Desa di Provinsi Lampung ;
Pertama, Kapasitas Kelembagaan yang Lemah. Sebagian besar KDMP belum beroperasi atau hanya menjalankan bisnis sederhana, dan sebagian besar belum memiliki kantor sendiri. Selain itu, manajemen usaha warga dan BUMDes di beberapa desa masih belum optimal.
Kedua, Infrastruktur dan Konektivitas. Banyak desa di Lampung masih menghadapi masalah infrastruktur dasar seperti jalan rusak, air bersih terbatas, dan akses internet yang belum merata, yang menghambat promosi dan pengelolaan usaha desa, terutama di sektor pariwisata.
Ketiga, Pemanfaatan Potensi yang Tidak Optimal. Meskipun memiliki potensi alam dan budaya yang besar, banyak desa wisata di Lampung belum mampu memastikan keuntungan yang merata bagi masyarakat lokal, karena sebagian besar keuntungan diperoleh oleh pelaku usaha dari luar.
Keempat, Kendala Pendanaan dan Akses Modal: Meskipun ada program pinjaman untuk KDMP, proses penyusunan proposal dan akses ke perbankan masih menjadi kendala bagi sebagian besar koperasi.
Tentu yang namanya tantangan, selalu diiringi dengan peluang. Dari berbagai sumber dan forum diskusi, ada banyak peluang di provinsi ini yang bisa dioptimalkan
Pertama, Sektor Pertanian dan Perikanan. Lampung memiliki potensi besar di sektor pertanian (seperti padi, kelapa sawit, dan tanaman hortikultura) serta perikanan, yang dapat dikembangkan melalui KDMP untuk meningkatkan nilai tambah produk dan pemasaran bersama.
Kedua, Pariwisata Desa Berbasis Budaya dan Alam. Desa-desa seperti Kelawi di Lampung Selatan, Pulau Pahawang di Pesawaran telah menunjukkan potensi sebagai destinasi wisata. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan infrastruktur serta pelatihan bagi masyarakat lokal, sektor ini dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa yang lebih inklusif.
Ketiga, Dukungan Program Pemerintah. Ada berbagai program pusat dan provinsi yang dapat dimanfaatkan desa, seperti pendanaan untuk pembangunan infrastruktur, pelatihan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan untuk digitalisasi usaha desa.
Keempat, Sinergi dengan BUMDes dan UMKM. KDMP dapat bekerja sama dengan BUMDes dan UMKM lokal untuk mengintegrasikan rantai nilai produk desa, mulai dari produksi hingga pemasaran, sehingga meningkatkan daya saing produk lokal.
Semoga di Ulang Tahun ke 62, Provinsi Lampung melakukan banyak pembenahan. Dimulai dari sektor paling bawah. Pemerintah dan stake holder lainnya harus lebih mengoptimalkan Desa sebagai ujung tombak peningkatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.
Selamat Ulang Tahun Lampung-ku.
M Imron Rosadi
( Kontributor infogeh.com & lampungsekelik.com )
















