infogeh.net, Pringsewu – Tungku sebagai alat memasak rupanya masih eksis di tengah masyarakat. Walaupun sebagian besar masyarakat sudah beralih dengan menggunakan gas elpiji. Begitu pula produsennya di Provinsi Lampung tepatnya Kabupaten Pringsewu.

Di tangan sejumlah pengrajin di Pekon Rejosari Kec.Pringsewu Kabupaten Pringsewu tungku dibuat dari campuran tanah liat, abu gosok, dan air. Pengerjaannya dengan memanfaatkan sekitar halaman rumah.
Proses pembuatan tungku, yaitu dengan mencampurkan semua bahan utama. Kemudian dimasukkan ke dalam cetakan ‘mal’ yang terbuat dari pot bunga berbahan plastik yang sudah dimodifikasi sendiri. Pendiaman kemudian dilakukan penjemuran selama empat hari hingga kering.
Setelah tungku mengeras, barulah dilakukan pemodelan dan cat menggunakan campuran tanah merah dengan air. Terakhir, dilakukan pembakaran agar tungku bisa tahan lama.
Usaha tungku di pekon Rejosari sendiri dimulai sekitar awal tahun 1980 an,yang diawali oleh Bapak Salemun. Karena keberhasilan beliau dalam usaha pengrajin tungku, kemudian dikuti oleh ratusan kepala keluarga yang lain.
Dalam sehari ribuan tungku dapat diproduksi serta didistribusikan bukan hanya di sekitar Kabupaten Pringsewu tetapi juga berbagai kabupaten di Propinsi Lampung bahkan beberapa kabupaten di Propinsi lain. Dengan banyaknya permintaan akan tungku tersebut sehingga perekonomian masyarakat penggrajin tungku di Pekon Rejosari pun terangkat.
Tapi seiring dengan program pemerintah dengan menghapus subsidi minyak tanah dan beralih penggunaan gas elpiji, banyak masyarakat yg meninggalkan penggunaan tungku diganti dengan gas elpiji maka jumlah permintaan tungku menurun drastis sehingga omset menurun tajam,yang berdampak pada menurunnya penghasilan masyarakat pengrajin tungku,akibatnya banyak pengrajin yg beralih usaha lain.
Kini di Pekon Rejosari hanya tersisa kurang lebih 25 kepala keluarga yg menekuni usaha pengrajin tungku dengan jumlah pernintaan hanya puluhan tungku perhari. Itupun sebagian hanya sebagai usaha sampingan dikala kondisi pandemi saat ini.
Salah satu pengrajin tungku yang masih bertahan adalah Bapak Mulyono. Beliau adalah putra bapak Salemun yg mengawali pembuatan tungku di Pekon Rejosari. Saat ini beliau hanya bisa memproduksi 10 tungku sehari, itupun termasuk yg paling banyak diantara pengrajin yg lain hanya 5 biji. Untuk harga penjualan 25.000 perbiji, dengan ongkos produksi 15 000 perbiji.
“Alhamdulillah hanya dengan sisa hasil tersebut dapat untuk menopang kebutuhan selama pandemi virus covid -19 ” ujar Bapak Mulyono. (Ulan)
















