infogeh.net, Rawajitu, Keterbatasan modal masih menjadi persoalan utama para petambak udang di Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang (Tuba). Untuk sekali budidaya udang vaname, petambak harus merogoh kocek hingga Rp70 juta.
Sekretaris Perhimpunan Petambak dan Pembudidaya Udang Wilayah (P3UW) Lampung, Aprianto, mengaku mendapatkan semangat baru sejak kedatangan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop-UKM) Teten Masduki.
Saat berkunjung ke Balai P3UW kemarin, orang nomor satu di Kemenkop-UKM berjanji akan kembali menghidupkan daerah yang menjadi penghasil udang terbesar di Indonesia bahkan mancanegara itu.
Sejak resmi berpisah dengan perusahaan dan menjadi tambak mandiri, ia mengaku kesejahteraan petambak semakin meningkat. Namun, budidaya tidak berlangsung secara maksimal lantaran terbentur modal.
“Jadi budidaya seadanya dan semampunya,” kata Aprianto, Minggu, 28 Februari 2021.
Meskipun telah memiliki koperasi sejak sembilan tahun silam, P3UW tidak mampu berjalan maksimal karena terbentur modal. Hingga saat ini, Koperasi Petambak Bumidipasena yang dibentuk sejak 2012 itu memiliki 6.500 anggota. Dengan adanya koperasi itu petambak dapat membeli kebutuhan budidayanya dengan harga di bawah pasaran.
“Kami sudah ada koperasi, tapi modal koperasi terbatas. Kami hanya melayani sebatas benur, pakan, dan obat-obatan itu juga terbatas. Jadi enggak bisa menjangkau seluruh anggota,” ungkapnya.
Ia berharap, janji bantuan permodalan untuk koperasi P3UW yang dilontarkan Teten saat berbincang dengan petambak dapat segera direalisasikan. Sebab hingga saat ini terdapat 16.250 haktare tambak di kawasan tambak udang di Kecamatan Rawajitu Timur, Tulangbawang.
“Pak menteri bilang akan segera memberikan bantuan permodalan bagi para petambak. Sejauh ini kami belum tahu kapan dan berapa modal yang akan diberikan. Yang kami harapkan saat ini, janji itu bisa segera terealisasi, karena selama ini yang kami tunggu ya permodalan itu,” ujarnya.
Persoalan lain yang muncul yaitu harga jual yang rendah. Sementara ongkos budidaya terus meningkat, karena harga benur, pakan, dan obat-obatan terus naik.
Meski begitu, pihaknya bersyukur sejak listrik telah tersambung hingga ke tingkat kampung, karena dapat menghemat biaya budidaya hingga 50%.
Saat budidaya dengan sistem manual atau menggunakan jenset, petambak dapat merogoh modal Rp100 juta hingga Rp150 juta, mulai dari biaya bibit, perawatan serta ongkos minyak mesin jenset yang dapat menghabiskan 15 hingga 20 liter solar untuk tambak ukuran 40/50 meter. Selain kerja kincir tidak maksimal karena hanya untuk 12 jam, jumlah bibit yang ditabur hanya 50 ribu.
Sementara, jika menggunakan listrik, benih yang ditabur dapat mencapai 80 hingga 100 ribu dengan ukuran tambak yang sama serta kincir dapat bergerak selama 24 jam. Modal yang dikeluarkan pun relatif rendah, berkisar Rp50 hingga Rp70 juta untuk sekali panen atau selama 100 hari budidaya.
“Kendala lain soal harga jual, karena untuk size (ukuran) 60 (1 kilo isi enam puluh ekor udang) dijual dengan harga Rp62 ribu sampai Rp65 ribu per kilogram harga segitu bukan petambak tidak dapat untung, tetapi tipis. Karena pernah harga jual itu mencapai Rp80 ribu,” kata dia.
















