Hijrah dan Kerinduan (Opini Ust. Komiruddin Imron)

banner 728x90
infogeh.net, Artikel – Setelah hijrah ke Madinah, kerinduan Bilal akan Mekah tak dapat dipungkiri, sebab Mekah adalah kampung halaman tempat ia tumbuh dan besar menghabiskan sebagian umurnya, walau dalam keterjajahan dan penderitaan.
Kerinduan Bilal kepada Mekah terungkap dalam bait-bait syair yang ia lantunkan kala mengingatnya.
Aduh-hai,
seandainya aku dapat melewatkan satu malam
di sebuah lembah dengan pohon idzkhir dan Jalil
di sekelilingku.
Duhai,
Apakah aku dapat mereguk kembali mata air Mijannah
Duhai,
Apakah Syamah dan Thufail kembali menampakkan dirinya?
Namun walaupun begitu dalam rindunya, ia lebih memilih Madinah untuk menjadi tempat tinggal hidupnya, sebab di sana ia tumbuh dan besar dalam hidayah arah baru yang dibawa Rasulullah Saw.
Ia merasakan alam kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya. Bebas berfikir, bebas berekspresi, bebas berpendapat tanpa harus dibayang-bayangi perasan takut dan tidak enakan. Bebas dari berbagai kasta yang menghambat berkembangnya potensi diri, bahkan cenderung mematikan kreasi dan menumpulkan pikiran.
Bagi Bilal Mekah adalah masa lalu dan sebatas kenangan yang sesekali melintas dan menggoda angannya. Sementara Madinah adalah masa kini, tempat ia menatap masa depan dan membangun peradaban. Darinya cahaya menyebar ke timur dan barat dan di sana pula tempat bersemayamnya jasad Rasulullah Saw.
Rindu kampung halaman itu fitrah. Sementara menetap di kampung yang lain itu pilihan.
banner 1080x1080