infogeh.net, Bandar Lampung – Polemik alih fungsi perpustakaan modern tidak ada habis-habisnya dibicarakan. Pegiat literasi, akademisi, dan beberapa pihak terkait menolak rencana alih fungsi perpustakaan sebagai pusat kegiatan ekonomi.

Wacana ini dilontarkan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Lampung. Akan tetapi, Disparekraf membantah hal itu sebagai alih fungsi. Lalu, menambah fungsi perpustakaan untuk tempat bisnis bagi pelaku ekonomi kreatif.
Demikian kesimpulan dialog interaktif bertema “Polemik Alih Fungsi Perpustakaan Lampung” yang diinisiasi Komisi I DPRD Lampung.
Acara bertempat di Cafe Unsilent Jalan Pangeran Antasari, Kedamaian, Bandarlampung, Senin (15/3/2021). Dalam sambutannya, Ketua Komisi I DPRD Lampung, Yozi Rizal, menjelaskan kegiatan ini sebagai langkah mencari solusi.
Ketua DPRD Lampung, Mingrum Gumay sepakat. Ia berharap dialog interaktif ini bukan menjadi ajang saling menyalahkan.
”Asas kebersamaan dan asas keadilan harus diterapkan. Pengalihan fungsi ditinjau kembali dan semoga ini hanya isu,” ucapnya.
Kepala Disparekraf Lampung, Edarwan, menegaskan pihaknya berupaya mengoptimalkan fungsi perpustakaan dengan menghadirkan daya tarik. Salah satunya, menghadirkan berbagai pelaku ekonomi kreatif. Hal ini menurutnya sebagai langkah optimalisasi sehingga perpustakaan itu menjadi magnet tanpa mengalihkan fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi.
Sementara itu, Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia, Gunawan Handoko, mengatakan lokasi gedung perpustakaan modern sudah sesuai dengan RTRW (rencana tata ruang wilayah). Yakni di kawasan atau zona pendidikan sehingga dapat melayani para mahasiswa dan pelajar di sekitarnya.
”Seperti perguruan tinggi Unila, Umitra, UBL, Darmajaya, UML, dan Teknokrat, serta sekolah tingkat dasar hingga menengah,” paparnya.
Letaknya pun strategis dan mudah diakses dengan kendaraan umum maupun pribadi. Selain anggota Komisi I DPRD Lampung, hadir Sastrawan Lampung Isbedy Stiawan ZS, pustakawan, penulis buku, dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Lampung, Ratna Dewi.
















