Tahura Wan Abdul Rachman Mendorong Kesejahteraan Warga Sekitar Hutan

banner 728x90
Foto Istimewa

Pesawaran (RN)- Kelompok Tani Hutan (KTH) yang ada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdurachman, Kebupaten Pesawaran menjadi salah satu unsur penjaga kelestarian kawasan hutan seluas 22 ribu hektare tersebut.

Selain sebagai penggarap kawasan hutan konservasi yang mendapat manfaat dari berbagai tanaman bernilai ekonomi, kelompok itu juga berperan sebagai pelestari ekosistem hutan, keanekaragaman hayati serta mencegah deforestasi.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman Pesawaran, Eni Puspasari saat melakukan monitoring dan pemantauan di desa penyangga kawasan hutan Tahura Wan Abdurachan, Desa Bogorejo, Kecamatan Gedongtataan, Selasa (12-4-2022).

“Ada perubahan prilaku masyarakat khususnya di Desa Bogorejo. Dahulu memang budaya bertani masyarakat hanya mengandalkan tanaman jenis palawija, dan membuka kawasan hutan untuk bercocok tanam jenis tersebut. Dampaknya, daerah serapan air menyusut karena penebangan hutan untuk pertanian,” jelasnya.

Namun, kini hal itu telah berubah. Petani yang sejak tahun 1960an mengandalkan hasil pertanian tumpang sari, kini dapat menikmati hasil yang lebih bernilai ekonomi dengan menerapkan agroforestri atau pertanian kehutanan.

“Melalui program Pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) kami terus mendorong masyarakat untuk menanam pohon bertajuk tinggi, guna menjadi tutupan,” katanya.

Setidaknya terdapat 240 kepala keluarga yang tergabung dalam KTH Wanakarya, yang ada di Desa Bogorejo, dengan luas garapan mencapai 232 hektare. 

Selain mengelola hasil hutan dalam bentuk tanaman karet, kelompok tani itu juga berhasil membentuk koperasi yang menjadi wadah jual beli karet yang berasal dari kawasan hutan.

Ketua KTH Wanakarya Desa Bogorejo, Soni menyebut perhari koperasi itu menampung hingga satu ton karet basah dari para petani. Dengan asumsi harga mencapai Rp9 ribu per kilogram.

“Agroforestri dan Koperasi inilah yang banyak membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak 1960an keluarga kami memang sudah mengelola kawasan hutan, namun belum menerapkan pola pertanian seperti saat ini,” katanya. (Red)

banner 1080x1080