BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) — BMKG Lampung menyebutkan bahwa getaran yang terjadi di sebagian wilayah Lampung pada Sabtu (11/8) pukul 23.11, disebabkan oleh gempa Swarm atau gempa lokal yang sangat kecil.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Lampung Rudi Harianto mengatakan, pihaknya telah melakukan konfirmasi dengan pihak Stasiun Geofisika Kotabumi dan alhasil alat seismograf tidak mendeteksi adanya gerakan seperti yang dimaksud. Dimungkinkan,  gempa itu terjadi sangat lokal di daerah Kemiling, Bandar Lampung.

“Wilayah Kemiling memiliki histori gempa Swarm pada tahun 2006, gempa Swarm yang mempunyai karakteristik lokal dan disebabkan bukan karena sesar lempengan bumi tapi dimungkinkan adanya lubang di dalam bumi,” kata dia kepada Lampost.co,  Minggu (12/8/2018).

Menurutnya, gempa tersebut dimungkinkan tidak membesar. Karena bukan gempa di sesar. Jika terjadi di sesar Semangko yang menghubungkan wilayah daratan Kota Agung hingga Liwa, dan Pesisir Barat bisa terdeteksi.

“Jika ada gerakan di sesar itu mala alat seismograf akan mendeteksi, tapi ini tidak ada maka disimpulkan yang terjadi semalam adalah gempa lokal,” ujarnya.

Ahli seismologi Jepang, Kiyoo Mogi (1963) mengklasifikasikan gempabumi dalam 3 (tiga) tipe. Gempabumi Tipe I, dicirikan dengan munculnya gempabumi utama (mainshock) yang kemudian diikuti oleh sejumlah gempabumi susulan (aftershocks) dengan kekuatan dan frekuensi kejadian yang terus mengecil.

Gempabumi Tipe II, dicirikan dengan munculnya serangkaian gempabumi kecil sebagai pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempabumi utama dengan kekuatan yang besar, dan selanjutnya diakhiri oleh sejumlah gempabumi susulan dengan kekuatan dan frekuensi kejadian yang terus mengecil.

Gempabumi Tipe III, dicirikan dengan kemunculan serangkaian aktivitas gempabumi bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat tinggi, berlangsung dalam waktu lama di suatu kawasan sangat lokal, tanpa adanya gempabumi kuat sebagai gempabumi utama. Ini yang sering kita sebut sebagai gempa Swarm.