infogeh.co, Artikel – Menjadi seorang guru bukan suatu hal yang mudah. Mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Hampir setiap hari di lakukan demi mewujudkan cita-cita bangsa dalam Pembukaan UUD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Semua dilakukan dengan penuh semangat. “Tanpa tanda jasa” mungkin kata kata ini melekat pada profesi guru, bahkan dalam suatu lagu wajib nasional terdapat lirik seperti itu tetapi sudah di ganti menjadi “Pembangun insan cendekia”.
Lahir dan tumbuh besar di Kota Bandar Lampung yang merupakan pusat dan ibukota dari Provinsi Lampung, banyak pengalaman yang sudah dilewati. Jenjang pendidikan pun dimulai dari Tanam kanak-kanak yang sangat menyenangkan, Sekolah dasar yang hampir lengkap fasilitasnya. Sekolah menengah pertama yang berada di pusat kota.
Jenjang aliyah yang sangat nuansa islami. Hingga masa kampus yang heterogen z pengalaman pendidikan yang sangat mengesankan.
Mengambil jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang sudah pasti lulus akan menjadi guru, mempunyai bekal yang sangat banyak untuk langsung terjun ke aksi nyata. Tentu banyak hal yang tidak terduga dalam perjalanannya.
Berjuang menjadi Pegawai Negeri Sipil memang tidak mudah. Pengorbanan yang telah dilakukan berbuah manis.
Mungkin banyak instansi yang tidak paham bahwasannya PGMI adalah setara dengan PGSD tetapi kenyataannya hanya Kabupaten Pringsewu yang menerima jurusan PGMI untuk bisa menjadi Guru PNS SD di Provinsi Lampung ini, terlepas dari Kementrian Agama yang memang jurusan PGMI berasal dari instansi ini.
Berbekal honor 2 tahun di sekolah berbasis Islam yang peraturannya yang sangat disiplin. Dan tempat dimana akan mengabdi adalah lokasi Kuliah Kerja Nyata pada masa kuliah yang berada jauh dari pusat kota.
Mengajar di kampung pun dimulai dengan lingkungan yang serba terbatas. Peserta didik yang begitu polos. Seperti bertemu dengan botol yang masih kosong yang siap diisi dengan kriteria pendidikan seperti di Kota.
Sekolah negeri di kampung memang sangat berbeda dengan sekolah swasta di Kota. Dari sistem yang sangat disiplin dan pengajar yang sangat muda di kota dan ketika di kampung sangat terbalik keadaannya. Situasi ini membuat siapapun harus beradaptasi dengan baik.
Minimnya wawasan membuat peserta didik banyak yang bertanya akan banyak hal. Dari hal yang kurang penting sampai pengetahuan asing. Menjadi guru harus lebih banyak pengetahuan dan belajar lagi menghadapi tantangan pertanyaan dari peserta didik tersebut. Pihak orang tua yang masih sangat sulit bekerja sama untuk bisa turut serta dalam perkembangan anaknya pun masih terbilang acuh tak acuh.
Terlepas dari itu peserta didik yang berada di kampung seperti ini pasti ada sisi positifnya. Salah satu nya adalah belum sangat terpengaruh dengan Gadget. Jangankan untuk mempunyai gadget sinyal pun masih terbilang susah. Berbeda dengan peserta didik di Kota yang sudah canggih dan modern.
Proses pembelajaran di kampung pun masih terbilang monoton, metode ceramah masih menjadi hal yang sangat di idolakan oleh para guru disini. Membuat peserta didik susah untuk berkembang dan mencari jati dirinya sendiri. Terlebih lagi untuk bisa bersaing dengan sekolah di kota, untuk menambah wawasan pun masih sulit.
Dengan keyakinan penuh dan berbekal pengalaman yang ada untuk bertekat ‘setara’. Tidak ada pembeda dengan peserta didik di kota maupun di kampung masih terus berlanjut. Mendukung program pemerintah yang notabenenya hanya bisa di lakukan peserta didik di kota dengan lantang mematahkan stigma itu.
Harapan yang penuh pada diri sendiri dan kemampuan yang ada, serta semangat juang yang masih membara. Terus mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Kelak peserta didik di kampung nantinya akan lebih unggul dalam pengetahuan keterampilan sikapnya.
Untuk itu ada beberapa tips untuk mempersiapkan diri mengajar peserta didik di kampung sebagi berikut.
Yang pertama berpenampilan rapih. Dengan berpenampilan rapih secara tidak langsung memberikan contoh kepada peserta didik yang notabenenya di daerah kampung terbilang kurang rapih.
Yang kedua bersikap layaknya guru, teman sekaligus orang tua. Sikap ini penting bagi seorang guru, terkadang saat proses pembelajaran harus menjadi guru, ketika sedang tidak di dalam kelas, berlaku seperti teman bahkan sebagai orangtua yang akan membuat peserta didik nyaman dan segan terhadap guru.
Ketiga adalah mempersiapkan metode dan media pembelajaran yang inovatif. Metode ceramah yang membosankan masih tetap menjadi primadona guru saat ini, tetapi layaknya guru milenial harus memberikan inovasi terkini dalam pembelajaran. Praktek langsung menggunakan teknologi dan bahan-bahan yang bisa dijadikan sebagai alat peraga dalam pembelajaran.
Yang keempat setelah ketiga tips terlaksana adalah memahami sikap peserta didik. Dalam segi diri peserta didik itu sendiri serta latar belakang peserta didik yaitu orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar.

Pembelajaran menggunakan teknologi masa kini.
Ditulis Oleh SUSILO DESTIAWAN MARGA, S.Pd.
















