infogeh.net, Artikel – Buat kawan-kawan saya yang di Salafy atau organisasi Islam “modernis” lain semacam PKS, Persis atau mungkin Muhammadiyah, hal semacam ini memang kelihatannya sensitif dan bisa dianggap skandal theologis yang serius.
Karena saya dulunya Persis, jadi saya tau betapa “Problematis” masalah Tawassul ini dalam alam pikiran kader-kadernya. Ini termasuk Syirik Besar yang bisa membawa pelakunya sebagai kafir. Tentu saja ini khas pemikiran keagamaan sebagaimana yang diusung Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Maka ya jangan heran kalau dimata kami dulu, organisasi semacam NU itu memang adanya di kerak neraka. Bukan karena masalah Ushalli atau Qunut subuh. Bagaimanapun, dosa Ushalli, Tahlilan dan Qunut Subuh itu tergolong ringan karena “cuma” tergolong Bid’ah. Masalah Tawassul ini bahkan tergolong dasar dan fondasi Iman. Pelakunya dianggap melakukan Syirik Akbar.
Bagaimanapun, tetap saja saya tau seorang kader Persis yang lumayan open minded, namun tetap saja biasanya dia membatasi Tawassul itu pada asumsi bahwa kita minta doa kepada seorang Wali Allah untuk mendoakan kita selama si wali itu masih hidup. Kalau tawassul kepada yang sudah wafat, si kader itu tidak langsung menyebutnya Musyrik, tapi ya memang bagi dia agak beresiko “mengganggu Akidah”.
Lain Persis, lain pula Organisasi semacam PKS. Kalo di PKS, bahkan di awal kita mau serius Liqo sekalipun, Murabbi akan memberikan kita semacam Pre Test yang mungkin berfungsi menjadi semacam screening , yang isinya mengevaluasi Amaliyah keagamaan si calon kader, sudah termasuk pemilik akidah yang ‘murni dan lurus’ atau masih harus diluruskan menjadi karakter kader yang pertama dan paling utama yaitu ‘Salimul Aqidah’.
Salimul Aqidah itu sendiri adalah karakter personal yang dimunculkan belakangan dari kosmologi Ikhwanul Muslimin sedunia, yang besar kemungkinan lahir pasca kooptasi Arab Saudi cq Pangeran Sultan kepada gerakan ikhwan sedunia yang artinya:” bersihnya aqidah seorang kader dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya dari lubang syirik”.
Tapi tentu saja, seiring waktu kita jadi tahu juga bahwa permasalahannya enggak se hitam putih itu lah. Ada banyak sikap badan, tikungan situasi, asumsi, penalaran, gerak hati, pemahaman dan gerak lisan yang harus di sinkronisasi sepenuhnya sehingga seseorang dapat disebut Musyrik. Enggak bisa juga lewat sepotong kejadian lalu dianggap sebagai kekafiran.

Saya sendiri, di awal belajar asumsi-asumsi dasar sebagai Nahdliyin, diajarkan oleh abah saya bahwa doa itu bisa dilakukan dengan berbagai tehnik dan pendekatan. Yang Pertama, berdoa LANGSUNG kepada Allah. Yang Kedua, minta kepada salah seorang Wali Allah-baik masih hidup atau sudah wafat-untuk memintakan kepada Allah hajat-hajat kita. Yang Ketiga, secara To The Point minta hajat kita kepada salah seorang Wali Allah, nanti biarkan beliau yang menguruskannya kepada Allah: “…Wa Qaddamnaka Baina Yadai Hajatina”.
Bagaimanapun, tentu saja, bagaimana cara berdoa yang anda paling sreg ya silahkan tanya kepada hati anda sendiri. Jangan pula anda sembarangan memilih tehnik berdoa, sementara anda tidak tau segala asumsi-asumsi tehnisnya sehingga anda khawatir kalau apa yang di dalam dada anda nantinya jadi ikut bermasalah. Namun demikian, yang mau saya sampaikan dari tulisan ini adalah, bila anda menemukan amaliyah yang tidak 100% sama dengan anda; PLEASE JANGAN SEMBARANGAN SEBUT MUSYRIK..
Penulis : Khairun fajri Arief (Penikmat Literasi dan Pecandu Kopi Lampung)

















